Kamis, 18 Maret 2010

Ketika Impian Telah Tercapai

Impian dimiliki seseorang setinggi apapun adalah sah-sah saja. Malahan itu bisa jadi hal yang memacu semangat dan gairah dalam hidup kita. Seperti impian seseorang yang ingin punya pulau sendiri, wisata keliling dunia tanpa ada embel2 tugas atau kedinasan, ingin jadi presiden sebuah negara, atau misalnya ingin mempunyai keluarga yang harmonis dan bahagia.

Baik bagi yang impian nya telah tercapai maupun yang belum, akan muncul atau terbersit pertanyaan, bagaimana rasanya yah jika impian kita telah tercapai...? apakah akan muncul masalah dan tantangan baru setelah itu...? apakah ini benar-benar impian yang saya impikan selama ini...?

Nah itu antara lain dari sekian pertanyaan maupun pikiran batin kita....

Dari keinginan mengejar satu kepuasan akan selalu muncul keinginan untuk mengejar kepuasan yang baru...karena di atas langit selalu ada langit ... ada lagi...ada lagi... dan selalu ada lagi...

Saya menulis ini karena muncul kekhawatiran dikalangan kita semua ... wahai para pelaku kehidupan ... akan datangnya rasa hampa dan gelisah setelah apa yang kita inginkan tercapai. Yaitu munculnya kalimat ... yaah ternyata cuma segini doang... atau yah inilah impian saya selama ini... setelah itu mau ngapain lagi yah...

Saya khawatir ternyata impian kita itu hanyalah sekedar mengungkap bahwa pola pikir kita ternyata sama dengan (maaf) hewan, misalnya, yang hanya hidup sekedar memenuhi harapan dan keinginan yang bersifat materi dan sesaat saja tingkat kepuasannya, seperti mengejar makanan untuk selanjutnya mengalami rasa lapar dahaga lagi. Soalnya jadi ingat film kartun Ice Age...hehehe...

Saya ingin mengajak kita semua kembali merenung tentang pengertian dan persepsi kita akan arti sebuah keselamatan dan kebahagiaan.

Kita seringkali melihat kedua hal itu dengan memperhatikan dan mencontoh kehidupan berbagai figur orang-orang yang kita anggap sukses dan berprestasi, serta kita anggap mereka telah mencapai impiannya.

Kita seringkali lupa bahwa kehidupan adalah sebuah proses semata. Dimana dalam menjalankan proses terebut kita seringkali menggunakan persepsi kita masing-masing, termasuk mendefinisikan apa yang dinamakan kebahagiaan Saya melihat banyak kejenuhan dan kebosanan jika persepsi kita hanya sesuatu yang bisa terukur dalam kacamata kebendaan maupun prestasi dunia semata.

Ada yang tahu menuju ke arah mana proses itu dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Ada yang hanya sebatas tahu menurut akal, dan rasa. Dan ada juga yang tahu berdasarkan bisikan dan pencarian fitrah. Maka banyak kita lihat ada orang yang taat beragama ada juga yang tidak... atau lebih dalam lagi .... ada yang ikhlas dan ada juga yang tidak ... terasa maupun tidak terasa... meskipun keikhlasan seseorang tidak bisa kita lihat sepenuhnya...

Jadi menikmati proses kehidupan itulah sebenarnya yang menjadi impian kita. Saat kaya maupun miskin,,, saat susah maupun senang... saat kekurangan maupun serba berkecukupan... saat sehat maupun sakit... dan sebagainya...

Menikmati proses kehidupan sebagai suatu kebahagiaan yang sesungguhnya. Menjalani kehidupan ini dengan nafsu muthmainnah. Tidaklah Allah SWT perintahkan kita menjalani tatanan kehidupan ini (diin) kecuali dalam keadaan ikhlas menjalaninya.

Dengan demikian Sayyid Quthb, mengibaratkan orang-orang seperti ini bagaikan seorang dewasa yang sedang duduk-duduk santai di halaman rumahnya dalam keadaan damai... sambil dia melihat orang2 yang bergelut mengejar impian-impian keduniawiannya di luar sana bagaikan sekelompok anak-anak kecil yang bergelut memperebutkan mainan di atas kubangan lapangan lumpur...

Hal ini terinspirasi dari pola pikir dan pola hidup Rasulullaah SAW beserta para shahabatnya. Seperti Abu Bakr yang dengan sangat mudahnya mengeluarkan seluruh harta nya untuk mendanai perjuangan di jalan Allah SWT, atau seperti Umar bin Khattab yang memanggul sekarung gandum sendirian untuk diberikan kepada seorang wanita tua (padahal waktu itu beliau sebagai kapala negara, kepala pemerintahan, kepala angkatan bersenjata, hingga menjabat sebagai pimpinan spiritual) negara Madinah, dan banyak kisah-kisah sejarah yang menakjubkan lainnya, baik yang kita tahu maupun yang tidak.

Mereka adalah umat yang telah merasakan betul akan makna dan hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dengan demikian, jika ingin membangun masjid jangan menunggu kaya dulu... sekarang juga kita sebenarnya bisa... sebesar apapun yang bisa kita nafkahkan di jalan Allah SWT... jangan banyak berhitung... karena perhitungan sebenarnya adalah di hari Kiamat kelak...

Proses pencarian dan menjalani alur kebenaran Ilahiyyah ... itulah impian sebenarnya...

Tidak ada komentar: