Kamis, 18 Maret 2010

Seputar Main Cashflow Game di MBI

Permainan cash flow game hari Rabu kemarin diikuti empat orang siswa Madrasah Bisnis dan Investasi (MBI). Mereka terdiri dari seorang yang baru putus sekolah, anak kelas 2 SMK, seorang pedagang obat & guru bela diri dan seorang pengusaha konsultan IT.

Yang menarik pemenang dari permainan ini adalah Diki (19th) yang baru saja Ramadhan kemarin putus sekolah. Dia yang pertama kali mencapai bebas finansial.

Mungkin yang lebih saya perhatikan dari hal ini adalah gaya dan alur berpikir para peserta dalam mengambil keputusan.

Ada yang awalnya masih ragu untuk investasi, ada juga yang pilih-pilih aset, bahkan ada juga yang salah menghitung aset sehingga arus kas nya bangkrut.

Permainan tersebut diselingi dengan obrolan-obrolan menarik seputar ilmu serta trik-trik dalam berinvestasi. Kita pun menekankan bahwa menabung dan deposito merupakan cara investasi yang mengarah kepada bukan untuk menang dan mencari aman. Sehingga menabung dan deposito di bank merupakan pilihan terburuk dalam berinvestasi.

Para peserta pun memahami bahwa besarnya gaji serta status profesi dan jabatan seseorang bukan ukuran kekayaan. Ada seorang peserta yang berperan sebagai seorang dokter dengan gaji tinggi, akan tetapi kalah jauh jumlah assetnya dengan seorang teknisi yang gajinya tidak terlalu besar.

Bahkan pernah saya mengadakan acara main cash flow di SMU 3 Bandung yang pemenangnya justru seorang janitor (Office Boy), dia mengalahkan seorang lawyer dan bussines manager.

Para peserta pun akhirnya memahami bahwa dalam perlombaan investasi dan finansial, ternyata ijazah tidak berguna. Yang berperan disini adalah pemahaman tentang uang serta keberanian dalam berinvestasi dan mengambil keputusan.

Selain itu para peserta pun memahami bahwa investasi terbaik adalah investasi aktif, dimana kendali sistem berada di kepala kita sendiri. Bukannya menabung, deposito, asuransi, reksadana, saham, maupun jasa talangan (hedge fund) yang kendalinya berada di tangan orang lain, atau perusahaan yang dimiliki orang lain.

Para peserta pun berhasil memetakan dengan baik antara pendapatan dengan biaya, serta antara asset dengan beban (liabilities).

Sedikit demi sedikit saya memfasilitasi pembicaraan tentang bagaimana bahwa orang kaya berinvestasi untuk menang di dunia nyata di alam bisnis di Indonesia ini.

Banyak pengusaha yang memotivasi akan tetapi hanya untuk kepentingan perusahaan mereka belaka, sementara para marketing yang mereka motivasi tidak dibimbing kepada kebebasan finansial.

Pengertian kebebasan finansial jadi menyimpang dari maksud sebenarnya. Sehingga banyak yang merasa sudah bebas finansial, akan tetapi tetap aja kehidupan sehari-harinya masih gempor. Punya mobil mewah hasil bonus atas point yang diraih, akan tetapi tidak sanggup bayar pajaknya dan bensin serta perawatannya. Itulah yang banyak dialami para leader perusahaan multi level. Impian yang disajikan sebenarnya semu belaka.

Di MBI ini lebih menekankan pada seni bertahan hidup, bahwa tidak ada bedanya mengelola bisnis atau berinvestasi di bidang apapun dengan orde jutaan atau milyaran bahkan trilyunan rupiah. Yang membedakan adalah apakah kendali sistem investasi sepenuhnya ada di tangan kita ataukah di tangan orang lain...?

Para peserta mulai berhasil melihat esensi dari arus kas. Bahwa aset tidak hanya diukur dari jumlah atau nominal uang, akan tetapi juga berdimensi waktu dan kondisi serta peluang yang ada.

Acara main cash flow tadi disponsori oleh PT. Cakwarala Visioner, sebuah perusahaan multi trading dan pemilik merk produk-produk teknologi telemetri.

Tidak ada komentar: