Salah seorang dosen saya, Dr. Hasanuddin Z.A., pernah menyarankan kepada mahasiswanya agar mengambil aktifitas di organisasi selain menjalani perkuliahan. Saya menangkap hal ini sebagai ajang mengasah soft skill disamping mengembangkan hard skill setiap mahasiswa ITB. Soft skill yang dimaksud antara lain adalah kemampuan inter personal, jiwa inter dependent, pengembangan imajinasi dan kreatifitas dalam menemukan berbagai solusi kehidupan, serta lebih jauh lagi mewarnai dan mengarahkan peradaban manusia pada umumnya.
Manusia paling hebat adalah manusia yang mempunyai pengaruh yang kuat kepada lingkungannya, bahkan setelah dia meninggal sekalipun. Ada istilah Kahlil Gibran, anak-anak mu bukanlah milikmu tapi milik zamannya. Saya sedikit menambahkan, "... dan anak yang paling hebat adalah anak yang bisa mempengaruhi zamannya dan zaman sesudahnya".
Saya memulai mengasah social soft skill saya ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saat itu saya menjabat sebagai ketua DKM SMUN 20 Bandung, tahun 1992. Sedikit agak membuka rahasia, saya sebelumnya adalah orang yang relatif jauh dari agama, saya jarang shalat, dan saya termasuk anak muda generasi metal-an. Akan tetapi semenjak SD, saya suka membaca buku-buku lektur dan sejarah para tokoh-tokoh dunia serta pemikirannya, mulai Hitler, Stalin, Lenin, Khomeini, Einstein, hingga saya sering mengulang-ulang membaca riwayat sejarah Jengis Khan. Selain itu saya salah satu penggemar tulisan Dr. Karl May. Saya banyak membaca Sirah Nabi SAW saat saya duduk di SMU. Untuk mendapatkan buku-buku itu seringkali saya harus berjualan es, kue, sampai petasan. Dari keuntungan itu saya tabungkan untuk membeli buku.
Pada saat kuliah saya pernah memegang jabatan-jabatan strategis di sebelas organisasi masyarakat, yayasan, dan LSM.
Semenjak SD hingga kuliah, saya memang tidak terlalu memperdulikan target akademis. Sehingga nilai dan IPK saya tergolong pas-pasan. Saya pun berpikir tidak membutuhkan itu, karena setelah lulus kuliah saya memilih meneruskan berpetualang di dunia luar kantor dan kelas.
Pernah saya melamar kerja, dan saat wawancara saya melihat betapa tersiksanya orang-orang yang bekerja dan setiap hari bergaul dengan rutinitas. Suatu dunia yang bisa menghancurkan jiwa, mental, semangat, dan raga saya... hehehe...
Seorang kawan saya pernah mengomentari pola petualangan saya bahwa saya ini memilih hidup di dunia nyata. Dunia nyata yang dimaksud adalah dunia di luar tirai lindungan atau keamanan finansial gaji kantor atau subsidi orang tua saat sekolah.
Kalau ada dunia nyata berarti ada dunia semu dong.... bisa jadi..!
Saya berpikir mana mungkin bisa berpetualang mengembangkan imajinasi dan meraih impian jika terkungkung di bawah sistem orang lain, saya tidak mungkin meraih itu jika status saya sebagai karyawan atau bawahan.
Saya lebih menyukai membangun sistem sendiri, negara sendiri, gagasan sendiri, dan saya sangat antusias dan yakin bahwa sistem yang bangun ini membawa sesuatu yang berarti dan berharga kepada saya dan orang-orang sekitar serta lingkungan dunia dimana kami hidup.
Saya melihat dunia semu hanya akan memangkas kreatifitas dan membunuh imajinasi.
Jika kita bekerja di bawah sistem orang lain maka kita sebenarnya berada pada dunia yang dikuasai orang lain. Orang lain sebagai pemain yang menentukan arah jalannya sejarah, dan kita hanya sebagai penonton saja. Itu dikarenakan kita kurang berani dalam kehidupan dan terbiasa hidup didalam kelas di sekolah maupun kampus. Biasa hidup di zona aman.... bukan biasa hidup di alam petualangan dan tantangan. Di kelas atau kampus kita biasa diarahkan bukannya mengarahkan dan membentuk.
Sekolah adalah salah satu tempat mencari ilmu. Di luar sekolah terdapat seribu satu sarana mencari ilmu, dan di luar sekolah adalah dunia nyata.
Sekolah dan kampus adalah tempat menimba ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah berorientasi kepada pengembangan dan penelitian sesuatu yang sudah ada.
Saya lebih suka mengembangkan imajinasi. Imajinasi berorientasi kepada pembentukan dan mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh ilmu pengetahuan, yang sebelumnya dianggap gila....
Imajinasi inilah fondasi tatanan dunia kita, akan kemana arah dunia dan akhirat kita bangun dari imajinasi dan impian kita sendiri... Allah SWT tergantung dan pasti mengabulkan imajinasi dalam bentuk do'a kita.... karena Allah SWT maha Pemurah... Ar Rahman dan Ar Rahiim.... amat mudah bagi Allah untuk memberikan surga kepada kita selama kita menginginkannya....
Saya lebih memilih tidak menyekolahkan anak saya di lembaga pendidikan pada umumnya dilakukan oleh para orang tua. Saya percaya fondasi pendidikan terbaik adalah rumah atau keluarga.
Saya biarkan anak-anak saya bebas berimajinasi dan mengeksplor ilmu pengetahuan mereka. Saya dan isteri saya bekerja keras membangun sistem dan mekanisme pendidikan terbaik untuk anak-anak saya semenjak bayi.
Sekolah anak saya adalah dunia nyata. Saya memperkenalkan berbagai hal dari mulai fisik isi alam ini hingga hal-hal ghaib. Dari mulai materi hingga memperkenalkan nilai-nilai kehidupan. Saya pun memperkenalkan dan melatih komunikasi sosial kepada anak-anak saya. Sehingga anak-anak saya... alhamdulillaah bisa berkomunikasi dengan berbagai macam orang... bahkan mulai terampil memahami keburukan dan kebaikan.
Saya jauh lebih mudah memperkenalkan Islam kepada anak-anak saya.
Saya pun membangun pemahaman finansial kepada anak-anak saya semenjak dini. Karena pemahaman finansial adalah alat yang akan membuat anak-anak saya mampu bertahan di masa-masa sulit, ditengah ketidak pastian dunia saat ini dan di masa yang akan datang....
Badai finansial dan ekonomi saat ini akan terus berlanjut hingga beberapa dekade mendatang.... dan saya harus membangun fondasi pemahaman dan nilai yang kuat dalam mind set anak-anak saya.
Saya tidak sudi menyerahkan pemahaman nilai dan imajinasi kepada guru di sekolah atau ustadz di pengajian. Mereka, para guru dan ustadz adalah yang terbaik untuk memberikan pelajaran hard skill kepada anak-anak saya, memberikan ilmu pengetahuan....
Sebanyak mungkin saya membawa anak-anak saya berpetualang... berkelana... jalan-jalan... memperkenalkan alam ini beserta hikmah di dalamnya..
Saya bisa melakukannya karena saya tidak terikat jam kantor dan anak-anak saya pun tidak terikat rutinitas sekolah...
Saya yakin hanya keberanian lah yang diperlukan untuk mewarnai dunia ini ... mewarnai zaman ini dan sesudahnya....
Indra Gumilar Prasetya
Kamis, 29 Juli 2010
Segera Pecat Karyawan Anda Yang Paling Loyal...!!
Setahun yang lalu saya dan keluarga masih tinggal di gang Kramat, sebuah gang sempit di kawasan padat di cimahi selatan. Ini adalah saat terindah dalam hidup saya, karena meski dengan status 'jobless', saya merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hidup. Jauh dari kebisingan dunia bisnis dan pekerjaan. orang bilang ' tiis ceuli herang panon'.
Saya banyak berdiam diri di rumah. Rumah petak yang sering bocor tapi memberikan kehangatan suasana dan keceriaan keluarga.
Sebelumnya, ketika masih di Bandung, saya dan isteri mendapatkan banyak kritikan dan tekanan yang kuat karena pilihan dan prinsip hidup yang kami jalankan. Orang-orang banyak menganggap bodoh kepada kami. Akan tetapi kami harus hidup tanpa dendam karena kami menganggap kritikan tadi berasal dari orang-orang yang tidak mengerti akan pola pikir kami.
Setelah setahun berlalu saya dalam kondisi yang sangat jauh berbeda, keadaan dan potensi finansial saya dalam format yang strategis. Dahulu saya bekerja keras untuk mendapatkan sejumlah uang, dan sekarang ini saya bekerja keras membangun kepercayaan. Kepercayaan dari pasar, investor, rekanan, sumber-sumber produksi, serta kepercayaan dari perbankan. Kepercayaan dari mereka yang secara ekonomi dan bisnis, merupakan yang terbaik yang ada di negeri ini. Saya melangkah diantara para raksasa bisnis dan saya pun bermetamorfosa menjadi raksasa pula.
Salah satu hal yang menjadi kunci kekuatan saya adalah dua orang anak buah saya yang selama dua tahun ini senantiasa mendengarkan dan membantu saya. Mereka adalah Fajar dan Yedi. Mereka berdua masih mau bekerja untuk saya secara 'unlimited', meskipun tidak saya gaji (karena memang tidak ada uang untuk membayar gaji mereka).
Ketika orang kebanyakan menganggap saya ini cuma isapan jempol, kedua anak buah saya itu malah menghargai dan masih mau mematuhi saya.
Sampai detik ini mereka masih mau bekerja untuk saya dalam posisi jabatan di perusahaan yang sangat strategis dan mendapatkan kepercayaan penuh dari saya. Di tangan mereka perusahaan saya bisa bergerak secara elegan dan fantastis. Saya dan mereka berdua sudah satu hati, satu pikiran, dan satu perasaan.
Akan tetapi, saya harus berpikir jauh lebih maju. Saya harus memberhentikan mereka secepatnya.
Hal itu harus saya lakukan agar Fajar dan Yedi bisa jauh lebih berkembang kehidupan finansialnya. Mereka berdua saat ini sedang saya persiapkan proses pemecatannya.
Yang dulunya anak buah saya, sekarang harus menjadi rekanan saya. Mereka berdua harus mandiri dan mempunyai bisnis sendiri, dimana saya pun sangat bersedia menjadi holding mereka.
Mereka berdua sedang saya persiapkan untuk mampu mengelola line of credit dari saya.
Turunan dari bisnis saya memang sangat banyak dan memerlukan akselerasi yang tinggi serta penetrasi yang kuat. Fajar dan Yedi adalah termasuk yang terbaik untuk menerima berbagai bisnis tersebut, karena sebelumnya mereka sudah memahami betul alur manajemen dan style bisnis saya sebelumnya. Mereka mempunyai potensi yang sangat kuat untuk menduplikasi dan mengembangkannya.
Itulah mengapa orang-orang yang paling loyal dalam bisnis anda adalah orang pertama yang harus anda pecat. Itu karena untuk kepentingan anda dan mereka juga. Anda tidak mungkin bisa menjadi raksasa tanpa bantuan mereka, dan anda pun tidak bisa hidup sebagai raksasa sendirian tanpa anda membentuk raksasa-raksasa baru yang bisa menjadi sahabat-sahabat sejati dalam kehidupan anda. Bongkahan-bongkahan besar permasalah kehidupan, bisa anda pecahkan dengan bantuan dan kerja sama dengan mereka.
Selamanya bisnis anda tidak akan pernah maju atau stagnant, jika anda mengunci mati anak buah anda. Anda akan tetap dalam kesendirian ditengah persaingan yang makin padat dan bisnis anda akan mati dengan sendirinya.
Indra Gumilar
Saya banyak berdiam diri di rumah. Rumah petak yang sering bocor tapi memberikan kehangatan suasana dan keceriaan keluarga.
Sebelumnya, ketika masih di Bandung, saya dan isteri mendapatkan banyak kritikan dan tekanan yang kuat karena pilihan dan prinsip hidup yang kami jalankan. Orang-orang banyak menganggap bodoh kepada kami. Akan tetapi kami harus hidup tanpa dendam karena kami menganggap kritikan tadi berasal dari orang-orang yang tidak mengerti akan pola pikir kami.
Setelah setahun berlalu saya dalam kondisi yang sangat jauh berbeda, keadaan dan potensi finansial saya dalam format yang strategis. Dahulu saya bekerja keras untuk mendapatkan sejumlah uang, dan sekarang ini saya bekerja keras membangun kepercayaan. Kepercayaan dari pasar, investor, rekanan, sumber-sumber produksi, serta kepercayaan dari perbankan. Kepercayaan dari mereka yang secara ekonomi dan bisnis, merupakan yang terbaik yang ada di negeri ini. Saya melangkah diantara para raksasa bisnis dan saya pun bermetamorfosa menjadi raksasa pula.
Salah satu hal yang menjadi kunci kekuatan saya adalah dua orang anak buah saya yang selama dua tahun ini senantiasa mendengarkan dan membantu saya. Mereka adalah Fajar dan Yedi. Mereka berdua masih mau bekerja untuk saya secara 'unlimited', meskipun tidak saya gaji (karena memang tidak ada uang untuk membayar gaji mereka).
Ketika orang kebanyakan menganggap saya ini cuma isapan jempol, kedua anak buah saya itu malah menghargai dan masih mau mematuhi saya.
Sampai detik ini mereka masih mau bekerja untuk saya dalam posisi jabatan di perusahaan yang sangat strategis dan mendapatkan kepercayaan penuh dari saya. Di tangan mereka perusahaan saya bisa bergerak secara elegan dan fantastis. Saya dan mereka berdua sudah satu hati, satu pikiran, dan satu perasaan.
Akan tetapi, saya harus berpikir jauh lebih maju. Saya harus memberhentikan mereka secepatnya.
Hal itu harus saya lakukan agar Fajar dan Yedi bisa jauh lebih berkembang kehidupan finansialnya. Mereka berdua saat ini sedang saya persiapkan proses pemecatannya.
Yang dulunya anak buah saya, sekarang harus menjadi rekanan saya. Mereka berdua harus mandiri dan mempunyai bisnis sendiri, dimana saya pun sangat bersedia menjadi holding mereka.
Mereka berdua sedang saya persiapkan untuk mampu mengelola line of credit dari saya.
Turunan dari bisnis saya memang sangat banyak dan memerlukan akselerasi yang tinggi serta penetrasi yang kuat. Fajar dan Yedi adalah termasuk yang terbaik untuk menerima berbagai bisnis tersebut, karena sebelumnya mereka sudah memahami betul alur manajemen dan style bisnis saya sebelumnya. Mereka mempunyai potensi yang sangat kuat untuk menduplikasi dan mengembangkannya.
Itulah mengapa orang-orang yang paling loyal dalam bisnis anda adalah orang pertama yang harus anda pecat. Itu karena untuk kepentingan anda dan mereka juga. Anda tidak mungkin bisa menjadi raksasa tanpa bantuan mereka, dan anda pun tidak bisa hidup sebagai raksasa sendirian tanpa anda membentuk raksasa-raksasa baru yang bisa menjadi sahabat-sahabat sejati dalam kehidupan anda. Bongkahan-bongkahan besar permasalah kehidupan, bisa anda pecahkan dengan bantuan dan kerja sama dengan mereka.
Selamanya bisnis anda tidak akan pernah maju atau stagnant, jika anda mengunci mati anak buah anda. Anda akan tetap dalam kesendirian ditengah persaingan yang makin padat dan bisnis anda akan mati dengan sendirinya.
Indra Gumilar
Langganan:
Komentar (Atom)