Impian dimiliki seseorang setinggi apapun adalah sah-sah saja. Malahan itu bisa jadi hal yang memacu semangat dan gairah dalam hidup kita. Seperti impian seseorang yang ingin punya pulau sendiri, wisata keliling dunia tanpa ada embel2 tugas atau kedinasan, ingin jadi presiden sebuah negara, atau misalnya ingin mempunyai keluarga yang harmonis dan bahagia.
Baik bagi yang impian nya telah tercapai maupun yang belum, akan muncul atau terbersit pertanyaan, bagaimana rasanya yah jika impian kita telah tercapai...? apakah akan muncul masalah dan tantangan baru setelah itu...? apakah ini benar-benar impian yang saya impikan selama ini...?
Nah itu antara lain dari sekian pertanyaan maupun pikiran batin kita....
Dari keinginan mengejar satu kepuasan akan selalu muncul keinginan untuk mengejar kepuasan yang baru...karena di atas langit selalu ada langit ... ada lagi...ada lagi... dan selalu ada lagi...
Saya menulis ini karena muncul kekhawatiran dikalangan kita semua ... wahai para pelaku kehidupan ... akan datangnya rasa hampa dan gelisah setelah apa yang kita inginkan tercapai. Yaitu munculnya kalimat ... yaah ternyata cuma segini doang... atau yah inilah impian saya selama ini... setelah itu mau ngapain lagi yah...
Saya khawatir ternyata impian kita itu hanyalah sekedar mengungkap bahwa pola pikir kita ternyata sama dengan (maaf) hewan, misalnya, yang hanya hidup sekedar memenuhi harapan dan keinginan yang bersifat materi dan sesaat saja tingkat kepuasannya, seperti mengejar makanan untuk selanjutnya mengalami rasa lapar dahaga lagi. Soalnya jadi ingat film kartun Ice Age...hehehe...
Saya ingin mengajak kita semua kembali merenung tentang pengertian dan persepsi kita akan arti sebuah keselamatan dan kebahagiaan.
Kita seringkali melihat kedua hal itu dengan memperhatikan dan mencontoh kehidupan berbagai figur orang-orang yang kita anggap sukses dan berprestasi, serta kita anggap mereka telah mencapai impiannya.
Kita seringkali lupa bahwa kehidupan adalah sebuah proses semata. Dimana dalam menjalankan proses terebut kita seringkali menggunakan persepsi kita masing-masing, termasuk mendefinisikan apa yang dinamakan kebahagiaan Saya melihat banyak kejenuhan dan kebosanan jika persepsi kita hanya sesuatu yang bisa terukur dalam kacamata kebendaan maupun prestasi dunia semata.
Ada yang tahu menuju ke arah mana proses itu dan ada juga yang tidak mengetahuinya. Ada yang hanya sebatas tahu menurut akal, dan rasa. Dan ada juga yang tahu berdasarkan bisikan dan pencarian fitrah. Maka banyak kita lihat ada orang yang taat beragama ada juga yang tidak... atau lebih dalam lagi .... ada yang ikhlas dan ada juga yang tidak ... terasa maupun tidak terasa... meskipun keikhlasan seseorang tidak bisa kita lihat sepenuhnya...
Jadi menikmati proses kehidupan itulah sebenarnya yang menjadi impian kita. Saat kaya maupun miskin,,, saat susah maupun senang... saat kekurangan maupun serba berkecukupan... saat sehat maupun sakit... dan sebagainya...
Menikmati proses kehidupan sebagai suatu kebahagiaan yang sesungguhnya. Menjalani kehidupan ini dengan nafsu muthmainnah. Tidaklah Allah SWT perintahkan kita menjalani tatanan kehidupan ini (diin) kecuali dalam keadaan ikhlas menjalaninya.
Dengan demikian Sayyid Quthb, mengibaratkan orang-orang seperti ini bagaikan seorang dewasa yang sedang duduk-duduk santai di halaman rumahnya dalam keadaan damai... sambil dia melihat orang2 yang bergelut mengejar impian-impian keduniawiannya di luar sana bagaikan sekelompok anak-anak kecil yang bergelut memperebutkan mainan di atas kubangan lapangan lumpur...
Hal ini terinspirasi dari pola pikir dan pola hidup Rasulullaah SAW beserta para shahabatnya. Seperti Abu Bakr yang dengan sangat mudahnya mengeluarkan seluruh harta nya untuk mendanai perjuangan di jalan Allah SWT, atau seperti Umar bin Khattab yang memanggul sekarung gandum sendirian untuk diberikan kepada seorang wanita tua (padahal waktu itu beliau sebagai kapala negara, kepala pemerintahan, kepala angkatan bersenjata, hingga menjabat sebagai pimpinan spiritual) negara Madinah, dan banyak kisah-kisah sejarah yang menakjubkan lainnya, baik yang kita tahu maupun yang tidak.
Mereka adalah umat yang telah merasakan betul akan makna dan hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Dengan demikian, jika ingin membangun masjid jangan menunggu kaya dulu... sekarang juga kita sebenarnya bisa... sebesar apapun yang bisa kita nafkahkan di jalan Allah SWT... jangan banyak berhitung... karena perhitungan sebenarnya adalah di hari Kiamat kelak...
Proses pencarian dan menjalani alur kebenaran Ilahiyyah ... itulah impian sebenarnya...
Kamis, 18 Maret 2010
Sebenarnya Tak Ada Yang Perlu Kita Takuti
Tahun 2007 adalah tahun ketiga kehidupan rumah tangga kami. Saat itu saya dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Pertama kehidupan bisnis saya sedang bangkrut abis dengan demikian saya bisa dikatakan 'no income', kedua saya sedang dililit utang yang menurut ukuran saya cukup banyak serta hidup dikejar-kejar tagihan dan kolektor, ketiga orang tua dan mertua saya sekeluarga relatif mengucilkan saya karena mereka kurang faham atas berbagai rencana finansial saya, dan yang keempat isteri saya yang seringkali kesulitan membaca alur pikiran saya. Pada tahun ini kami sekeluarga (saya, isteri, dan dua orang anak saya yang masih bayi), tinggal di tempat yang dulunya sebagai tempat kantor usaha saya yang setelah bangkrut keadaannya kosong. Dan pada awal tahun 2008 kami sekeluarga pindah ke rumah kontrakan yang kondisinya kumuh abis, alias tidak layak untuk kehidupan keluarga saya.
Saya membayar kontrakan tadi dengan sisa baju dagangan yang masih ada di saya. Hal yang cukup menarik adalah, orang yang punya rumah kontrakan tadi adalah seorang lelaki bujangan yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Dia tinggal di loteng rumah yang tidak ada akses untuk masuk ke tempat kami. Hampir tiap malam orang itu berteriak-teriak gak jelas yang kadang isteri dan anak saya heran dan ketakutan.
Hal ini tentu saja membuat keluarga saya dan isteri saya makin enggan 'bergaul' dengan kami, terutama saya. Akan tetapi saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan berbagai penilaian keluarga serta teman-teman saya.
Saya menulis ini bukan untuk bercerita sedih, akan tetapi hanya menyajikan sekelumit romantika saja. Karena saat ini kehidupan saya serta keluarga sudah jauh lebih baik.
Saya memilih pantang menyerah waktu itu, dan berkomitmen untuk terus melanjutkan berbagai rencana dan konsep finansial yang telah kami sepakati. Waktu itu saya kembali memulai usaha kembali dari nol. Akan tetapi tidak seperti sebelumnya, saya memulai usaha dengan benar-benar modal dengkul, karena dalam visi saya, terlihat sangat jelas bagaimana konsep bisnis saya tersebut beserta liku-likunya. Semuanya memang tidak mudah.
Sewaktu ramadhan tahun 2008 status saya adalah sebagai mustahik zakat. Hampir setiap hari saya dan isteri keliling masjid di seputar margahayu untuk cari makanan ta'jil. Hal ini ditambah isteri saya yang sedang hamil muda, mengandung anak ketiga kami. Saya lebih memilih sahur hanya dengan beberapa teguk air putih, dan menyisakan makanan buat isteri saya.
Akan tetapi sekali lagi, suasana kami sekeluarga cukup gembira, karena anak-anak kami yang ternyata memberikan suasanan yang sangat semarak di rumah kontrakan kami tadi.
Saya bisnis jualan yoghurt dan kacamata untuk dapur kami. Sedangkan di sisi lain saya mulai melakukan beberapa lobby dan pendekatan pasar waktu itu. Antara lain saya mulai melakukan penawaran barang-barang perangkat kerasn dan lunak produksi beberapa perusahaan rekanan saya. Alhamdulilllaah, waktu itu saya mulai dikenal sebagai pedagang alat-alat teknologi seperti alarm rumah, GPS tracking, serta marketing perangkat lunak tracking dan navigasi.
Saya banyak mempelajari seluk beluk bisnis alat-alat seperti itu. Mulai dari produksi, resiko, hingga persaingan pasar nya. Tahun 2009 kondisi finansial kami sudah relatif membaik, karena saya juga menerima orderan pekerjaan atau proyek survey yang sedikit banyak memberikan peluang agar ruang dapur rumah kami lebih padat isinya.. hehehe...
Akhir tahun 2009 kondisi finansial kami memungkinkan bisa membeli rumah sendiri, akan tetapi saya lebih memilih untuk membangun back office untuk lebih mengembangkan bisnis saya. Dan pada tahun 2010 ini kondisi bisnis saya sudah melibatkan investasi milyaran rupiah dan dengan peluang serta permintaan pasar mencapai puluhan milyar rupiah.
Saya menyajikan tulisan ini adalah untuk lebih menekankan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ataupun ditakuti ketika kita meilih suatu jalan dan laur kehidupan kita sendiri. Yang paling penting adalah kehidupan rumah tangga kita yang solid. Dukungan dan do'a dari anak-anak dan isteri kita lah yang sebenarnya fondasi yang akan menunjang kehidupan bisnis dan finansial kita.
Situasi sebaliknya akan kita alami jika kehidupan rumah tangga kita tidak kompak.
Jadi keluarga adalah fondasi kekuatan kehidupan finansial kita, keluarga juga sebagai fondasi kekuatan pendidikan kita beserta anak-anak kita. Selain itu motivasi dan semangat serta gairah hidup kita bermula dari kekuatan keluarga kita....!!!
Alllah SWT akan senantiasa menguji hamba-hambaNya dengan ketakutan, kekurangan, kelaparan, serta berbagai ujian lainnya....
Sabar adalah seni utama kehidupan kita dan syukur adalah motivator terbaik dalam kehidupan jiwa kita...
Saya membayar kontrakan tadi dengan sisa baju dagangan yang masih ada di saya. Hal yang cukup menarik adalah, orang yang punya rumah kontrakan tadi adalah seorang lelaki bujangan yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Dia tinggal di loteng rumah yang tidak ada akses untuk masuk ke tempat kami. Hampir tiap malam orang itu berteriak-teriak gak jelas yang kadang isteri dan anak saya heran dan ketakutan.
Hal ini tentu saja membuat keluarga saya dan isteri saya makin enggan 'bergaul' dengan kami, terutama saya. Akan tetapi saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan berbagai penilaian keluarga serta teman-teman saya.
Saya menulis ini bukan untuk bercerita sedih, akan tetapi hanya menyajikan sekelumit romantika saja. Karena saat ini kehidupan saya serta keluarga sudah jauh lebih baik.
Saya memilih pantang menyerah waktu itu, dan berkomitmen untuk terus melanjutkan berbagai rencana dan konsep finansial yang telah kami sepakati. Waktu itu saya kembali memulai usaha kembali dari nol. Akan tetapi tidak seperti sebelumnya, saya memulai usaha dengan benar-benar modal dengkul, karena dalam visi saya, terlihat sangat jelas bagaimana konsep bisnis saya tersebut beserta liku-likunya. Semuanya memang tidak mudah.
Sewaktu ramadhan tahun 2008 status saya adalah sebagai mustahik zakat. Hampir setiap hari saya dan isteri keliling masjid di seputar margahayu untuk cari makanan ta'jil. Hal ini ditambah isteri saya yang sedang hamil muda, mengandung anak ketiga kami. Saya lebih memilih sahur hanya dengan beberapa teguk air putih, dan menyisakan makanan buat isteri saya.
Akan tetapi sekali lagi, suasana kami sekeluarga cukup gembira, karena anak-anak kami yang ternyata memberikan suasanan yang sangat semarak di rumah kontrakan kami tadi.
Saya bisnis jualan yoghurt dan kacamata untuk dapur kami. Sedangkan di sisi lain saya mulai melakukan beberapa lobby dan pendekatan pasar waktu itu. Antara lain saya mulai melakukan penawaran barang-barang perangkat kerasn dan lunak produksi beberapa perusahaan rekanan saya. Alhamdulilllaah, waktu itu saya mulai dikenal sebagai pedagang alat-alat teknologi seperti alarm rumah, GPS tracking, serta marketing perangkat lunak tracking dan navigasi.
Saya banyak mempelajari seluk beluk bisnis alat-alat seperti itu. Mulai dari produksi, resiko, hingga persaingan pasar nya. Tahun 2009 kondisi finansial kami sudah relatif membaik, karena saya juga menerima orderan pekerjaan atau proyek survey yang sedikit banyak memberikan peluang agar ruang dapur rumah kami lebih padat isinya.. hehehe...
Akhir tahun 2009 kondisi finansial kami memungkinkan bisa membeli rumah sendiri, akan tetapi saya lebih memilih untuk membangun back office untuk lebih mengembangkan bisnis saya. Dan pada tahun 2010 ini kondisi bisnis saya sudah melibatkan investasi milyaran rupiah dan dengan peluang serta permintaan pasar mencapai puluhan milyar rupiah.
Saya menyajikan tulisan ini adalah untuk lebih menekankan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ataupun ditakuti ketika kita meilih suatu jalan dan laur kehidupan kita sendiri. Yang paling penting adalah kehidupan rumah tangga kita yang solid. Dukungan dan do'a dari anak-anak dan isteri kita lah yang sebenarnya fondasi yang akan menunjang kehidupan bisnis dan finansial kita.
Situasi sebaliknya akan kita alami jika kehidupan rumah tangga kita tidak kompak.
Jadi keluarga adalah fondasi kekuatan kehidupan finansial kita, keluarga juga sebagai fondasi kekuatan pendidikan kita beserta anak-anak kita. Selain itu motivasi dan semangat serta gairah hidup kita bermula dari kekuatan keluarga kita....!!!
Alllah SWT akan senantiasa menguji hamba-hambaNya dengan ketakutan, kekurangan, kelaparan, serta berbagai ujian lainnya....
Sabar adalah seni utama kehidupan kita dan syukur adalah motivator terbaik dalam kehidupan jiwa kita...
Seputar Main Cashflow Game di MBI
Permainan cash flow game hari Rabu kemarin diikuti empat orang siswa Madrasah Bisnis dan Investasi (MBI). Mereka terdiri dari seorang yang baru putus sekolah, anak kelas 2 SMK, seorang pedagang obat & guru bela diri dan seorang pengusaha konsultan IT.
Yang menarik pemenang dari permainan ini adalah Diki (19th) yang baru saja Ramadhan kemarin putus sekolah. Dia yang pertama kali mencapai bebas finansial.
Mungkin yang lebih saya perhatikan dari hal ini adalah gaya dan alur berpikir para peserta dalam mengambil keputusan.
Ada yang awalnya masih ragu untuk investasi, ada juga yang pilih-pilih aset, bahkan ada juga yang salah menghitung aset sehingga arus kas nya bangkrut.
Permainan tersebut diselingi dengan obrolan-obrolan menarik seputar ilmu serta trik-trik dalam berinvestasi. Kita pun menekankan bahwa menabung dan deposito merupakan cara investasi yang mengarah kepada bukan untuk menang dan mencari aman. Sehingga menabung dan deposito di bank merupakan pilihan terburuk dalam berinvestasi.
Para peserta pun memahami bahwa besarnya gaji serta status profesi dan jabatan seseorang bukan ukuran kekayaan. Ada seorang peserta yang berperan sebagai seorang dokter dengan gaji tinggi, akan tetapi kalah jauh jumlah assetnya dengan seorang teknisi yang gajinya tidak terlalu besar.
Bahkan pernah saya mengadakan acara main cash flow di SMU 3 Bandung yang pemenangnya justru seorang janitor (Office Boy), dia mengalahkan seorang lawyer dan bussines manager.
Para peserta pun akhirnya memahami bahwa dalam perlombaan investasi dan finansial, ternyata ijazah tidak berguna. Yang berperan disini adalah pemahaman tentang uang serta keberanian dalam berinvestasi dan mengambil keputusan.
Selain itu para peserta pun memahami bahwa investasi terbaik adalah investasi aktif, dimana kendali sistem berada di kepala kita sendiri. Bukannya menabung, deposito, asuransi, reksadana, saham, maupun jasa talangan (hedge fund) yang kendalinya berada di tangan orang lain, atau perusahaan yang dimiliki orang lain.
Para peserta pun berhasil memetakan dengan baik antara pendapatan dengan biaya, serta antara asset dengan beban (liabilities).
Sedikit demi sedikit saya memfasilitasi pembicaraan tentang bagaimana bahwa orang kaya berinvestasi untuk menang di dunia nyata di alam bisnis di Indonesia ini.
Banyak pengusaha yang memotivasi akan tetapi hanya untuk kepentingan perusahaan mereka belaka, sementara para marketing yang mereka motivasi tidak dibimbing kepada kebebasan finansial.
Pengertian kebebasan finansial jadi menyimpang dari maksud sebenarnya. Sehingga banyak yang merasa sudah bebas finansial, akan tetapi tetap aja kehidupan sehari-harinya masih gempor. Punya mobil mewah hasil bonus atas point yang diraih, akan tetapi tidak sanggup bayar pajaknya dan bensin serta perawatannya. Itulah yang banyak dialami para leader perusahaan multi level. Impian yang disajikan sebenarnya semu belaka.
Di MBI ini lebih menekankan pada seni bertahan hidup, bahwa tidak ada bedanya mengelola bisnis atau berinvestasi di bidang apapun dengan orde jutaan atau milyaran bahkan trilyunan rupiah. Yang membedakan adalah apakah kendali sistem investasi sepenuhnya ada di tangan kita ataukah di tangan orang lain...?
Para peserta mulai berhasil melihat esensi dari arus kas. Bahwa aset tidak hanya diukur dari jumlah atau nominal uang, akan tetapi juga berdimensi waktu dan kondisi serta peluang yang ada.
Acara main cash flow tadi disponsori oleh PT. Cakwarala Visioner, sebuah perusahaan multi trading dan pemilik merk produk-produk teknologi telemetri.
Yang menarik pemenang dari permainan ini adalah Diki (19th) yang baru saja Ramadhan kemarin putus sekolah. Dia yang pertama kali mencapai bebas finansial.
Mungkin yang lebih saya perhatikan dari hal ini adalah gaya dan alur berpikir para peserta dalam mengambil keputusan.
Ada yang awalnya masih ragu untuk investasi, ada juga yang pilih-pilih aset, bahkan ada juga yang salah menghitung aset sehingga arus kas nya bangkrut.
Permainan tersebut diselingi dengan obrolan-obrolan menarik seputar ilmu serta trik-trik dalam berinvestasi. Kita pun menekankan bahwa menabung dan deposito merupakan cara investasi yang mengarah kepada bukan untuk menang dan mencari aman. Sehingga menabung dan deposito di bank merupakan pilihan terburuk dalam berinvestasi.
Para peserta pun memahami bahwa besarnya gaji serta status profesi dan jabatan seseorang bukan ukuran kekayaan. Ada seorang peserta yang berperan sebagai seorang dokter dengan gaji tinggi, akan tetapi kalah jauh jumlah assetnya dengan seorang teknisi yang gajinya tidak terlalu besar.
Bahkan pernah saya mengadakan acara main cash flow di SMU 3 Bandung yang pemenangnya justru seorang janitor (Office Boy), dia mengalahkan seorang lawyer dan bussines manager.
Para peserta pun akhirnya memahami bahwa dalam perlombaan investasi dan finansial, ternyata ijazah tidak berguna. Yang berperan disini adalah pemahaman tentang uang serta keberanian dalam berinvestasi dan mengambil keputusan.
Selain itu para peserta pun memahami bahwa investasi terbaik adalah investasi aktif, dimana kendali sistem berada di kepala kita sendiri. Bukannya menabung, deposito, asuransi, reksadana, saham, maupun jasa talangan (hedge fund) yang kendalinya berada di tangan orang lain, atau perusahaan yang dimiliki orang lain.
Para peserta pun berhasil memetakan dengan baik antara pendapatan dengan biaya, serta antara asset dengan beban (liabilities).
Sedikit demi sedikit saya memfasilitasi pembicaraan tentang bagaimana bahwa orang kaya berinvestasi untuk menang di dunia nyata di alam bisnis di Indonesia ini.
Banyak pengusaha yang memotivasi akan tetapi hanya untuk kepentingan perusahaan mereka belaka, sementara para marketing yang mereka motivasi tidak dibimbing kepada kebebasan finansial.
Pengertian kebebasan finansial jadi menyimpang dari maksud sebenarnya. Sehingga banyak yang merasa sudah bebas finansial, akan tetapi tetap aja kehidupan sehari-harinya masih gempor. Punya mobil mewah hasil bonus atas point yang diraih, akan tetapi tidak sanggup bayar pajaknya dan bensin serta perawatannya. Itulah yang banyak dialami para leader perusahaan multi level. Impian yang disajikan sebenarnya semu belaka.
Di MBI ini lebih menekankan pada seni bertahan hidup, bahwa tidak ada bedanya mengelola bisnis atau berinvestasi di bidang apapun dengan orde jutaan atau milyaran bahkan trilyunan rupiah. Yang membedakan adalah apakah kendali sistem investasi sepenuhnya ada di tangan kita ataukah di tangan orang lain...?
Para peserta mulai berhasil melihat esensi dari arus kas. Bahwa aset tidak hanya diukur dari jumlah atau nominal uang, akan tetapi juga berdimensi waktu dan kondisi serta peluang yang ada.
Acara main cash flow tadi disponsori oleh PT. Cakwarala Visioner, sebuah perusahaan multi trading dan pemilik merk produk-produk teknologi telemetri.
Saya dan Para Santri Madrasah Bisnis dan Investasi (MBI)
Fajar (27 th) salah satu santri yang sudah dua tahun mengikuti pelajaran dan seni bertahan hidup di MBI. Saat ini Fajar sedang menempuh pelajaran dan menghadapi persiapan dan prospek bisnis dengan salah satu BUMN yang bergerak di bidang teknologi persenjataan di tanah air.
Padahal sekitar tiga tahun yang lalu, Fajar adalah seorang mahasiswa karatan di salah satu PTN di Bandung, yang menjalankan usaha jualan kue basah di daerah cileunyi Kab. Bandung. Tidak berapa lama usahanya tutup.
Setelah itu dia bekerja secara free lance di sebuah kios retail milik saya waktu itu yang berlokasi di kawasan metro Margahayu, tepat kira-kira setahun setelah saya bangkrut. Fajar merupakan angkatan kedua MBI.
Cukup banyak pelajaran dan prinsip2 bisnis dan seni bertahan hidup yang telah dia pelajari dari berbagai pengalaman saya. Selain itu banyak kasus-kasus bisnis yang saya berikan kepadanya selama dua tahun bersama saya.
Saya sengaja memberikan pelajaran tentang inter relationship for business prospect dan team work development kepadanya, dan pada hari sabtu kemarin saya memberikan hypnotherapi dan motivasi (bekerja sama dengan Visioner Hypnotherapy) kepadanya untuk dapat langsung 'nyemplung' dan memulai merancang kerajaan bisnis dia sendiri yang sengaja masih saya kaitkan dengan berbagai sumber daya yang saya miliki.
Hasilnya pada hari Senin kemarin, Fajar langsung diminati oleh salah satu BUMN yang selanjutnya Fajar cs akan melakukan presentasi dalam waktu dekat ini.
Tantangan yang dihadapi Fajar tergolong dahsyat dan bisa menjadi proyek raksasa yang akan memegang peranan penting bagi sistem pertahanan di tanah air, insya Allah.
Saya lebih melihat pada keberanian dan rasa percaya diri yang diiringi oleh mind set dan karakter kuat yang telah tertanam dalam kepribadian Fajar. Karena hal itu merupakan kebanggan tersendiri bagi saya, sebagai mentor dia.
Berbagai pelajaran telah saya berikan kepadanya bersama isterinya, dan pelajaran itu terus berlanjut mengingat tantangan bisnis yang sedang dihadapi Fajar saat yang tentu saja mengharuskan saya tidak dapat melepaskan dia sendirian.
Ditambah lagi beberapa prospek bisnis selain yang ini, yang akan dihadapi oleh Fajar di kemudian hari yang juga dalam waktu dekat ini.
Saat ini Fajar telah mempunyai seorang istri dan satu calon anak.
Selamat berjuang Fajar...!
Selain Fajar, ada lagi salah satu santri MBI, yaitu Jaka (30 th) yang relatif baru bergabung dengan MBI. Jaka bergabung sekitar lima bulan yang lalu, dan mulai tancap gas mempelajari banyak hal di MBI.
Sekitar tiga bulan yang lalu, Jaka pun langsung saya dorong untuk menghadapi atau menangani prospek bisnis yang sangat dahsyat, yang tidak kalah dengan Fajar.
Prospek pertama adalah kerjasama bisnis dengan salah satu perusahaan energi nasional yang melibatkan investasi dan biaya mencapai puluhan milyar rupiah. Selain itu, Jaka juga menghadapi prospek bisnis dengan beberapa perusahan BUMD yang juga menyedot investasi yang juga mencapai puluhan dan tidak mustahil akan naik menjadi ratusan milyar rupiah. Mengingat bisnis yang dikembangkan oleh Jaka cs, setidaknya dapat mengganti paradigma bisnis layanan air bersih di tanah air.
Dalam waktu dekat ini Jaka akan memulai negosiasi dan menyusun perencanaan bisnis pilot project yang didukung penuh oleh salah satu BUMD di salah satu kota dan satu kabupaten di Jawa Barat.
Yang cukup hebat dari kasus di atas adalah ternyata bisnis-bisnis dan proyek2 tersebut secara eksekutif dijalankan oleh para santri MBI.
Saya sangat bangga dan bersyukur atas hal itu, terutama karena fondasi pemahaman tentang bisnis dan seni bertanah hidup sebagian besar pokok-pokok nya sudah mereka serap dengan baik.
Ada lagi beberapa santri MBI seperti Dani (25 th) yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melakukan lobby dengan pemilik salah satu produsen kendaraan dan alat berat di Indonesia dan salah satu direktur eksekutif sebuah perusahaan provider layanan operator selluler di Indonesia. Selain itu juga ada Yedi (29 th) yang sedang giat melakukan lobby dengan para direktur eksekutif beberapa perusahaan energi dan mineral milik asing, disamping beberapa perusahaan trading dan supplier domestik.
Selamat berjuang para santri MBI... Suxess dan barokah selalu senantiasa tercurak kepada kita semua ... amiin..
Padahal sekitar tiga tahun yang lalu, Fajar adalah seorang mahasiswa karatan di salah satu PTN di Bandung, yang menjalankan usaha jualan kue basah di daerah cileunyi Kab. Bandung. Tidak berapa lama usahanya tutup.
Setelah itu dia bekerja secara free lance di sebuah kios retail milik saya waktu itu yang berlokasi di kawasan metro Margahayu, tepat kira-kira setahun setelah saya bangkrut. Fajar merupakan angkatan kedua MBI.
Cukup banyak pelajaran dan prinsip2 bisnis dan seni bertahan hidup yang telah dia pelajari dari berbagai pengalaman saya. Selain itu banyak kasus-kasus bisnis yang saya berikan kepadanya selama dua tahun bersama saya.
Saya sengaja memberikan pelajaran tentang inter relationship for business prospect dan team work development kepadanya, dan pada hari sabtu kemarin saya memberikan hypnotherapi dan motivasi (bekerja sama dengan Visioner Hypnotherapy) kepadanya untuk dapat langsung 'nyemplung' dan memulai merancang kerajaan bisnis dia sendiri yang sengaja masih saya kaitkan dengan berbagai sumber daya yang saya miliki.
Hasilnya pada hari Senin kemarin, Fajar langsung diminati oleh salah satu BUMN yang selanjutnya Fajar cs akan melakukan presentasi dalam waktu dekat ini.
Tantangan yang dihadapi Fajar tergolong dahsyat dan bisa menjadi proyek raksasa yang akan memegang peranan penting bagi sistem pertahanan di tanah air, insya Allah.
Saya lebih melihat pada keberanian dan rasa percaya diri yang diiringi oleh mind set dan karakter kuat yang telah tertanam dalam kepribadian Fajar. Karena hal itu merupakan kebanggan tersendiri bagi saya, sebagai mentor dia.
Berbagai pelajaran telah saya berikan kepadanya bersama isterinya, dan pelajaran itu terus berlanjut mengingat tantangan bisnis yang sedang dihadapi Fajar saat yang tentu saja mengharuskan saya tidak dapat melepaskan dia sendirian.
Ditambah lagi beberapa prospek bisnis selain yang ini, yang akan dihadapi oleh Fajar di kemudian hari yang juga dalam waktu dekat ini.
Saat ini Fajar telah mempunyai seorang istri dan satu calon anak.
Selamat berjuang Fajar...!
Selain Fajar, ada lagi salah satu santri MBI, yaitu Jaka (30 th) yang relatif baru bergabung dengan MBI. Jaka bergabung sekitar lima bulan yang lalu, dan mulai tancap gas mempelajari banyak hal di MBI.
Sekitar tiga bulan yang lalu, Jaka pun langsung saya dorong untuk menghadapi atau menangani prospek bisnis yang sangat dahsyat, yang tidak kalah dengan Fajar.
Prospek pertama adalah kerjasama bisnis dengan salah satu perusahaan energi nasional yang melibatkan investasi dan biaya mencapai puluhan milyar rupiah. Selain itu, Jaka juga menghadapi prospek bisnis dengan beberapa perusahan BUMD yang juga menyedot investasi yang juga mencapai puluhan dan tidak mustahil akan naik menjadi ratusan milyar rupiah. Mengingat bisnis yang dikembangkan oleh Jaka cs, setidaknya dapat mengganti paradigma bisnis layanan air bersih di tanah air.
Dalam waktu dekat ini Jaka akan memulai negosiasi dan menyusun perencanaan bisnis pilot project yang didukung penuh oleh salah satu BUMD di salah satu kota dan satu kabupaten di Jawa Barat.
Yang cukup hebat dari kasus di atas adalah ternyata bisnis-bisnis dan proyek2 tersebut secara eksekutif dijalankan oleh para santri MBI.
Saya sangat bangga dan bersyukur atas hal itu, terutama karena fondasi pemahaman tentang bisnis dan seni bertanah hidup sebagian besar pokok-pokok nya sudah mereka serap dengan baik.
Ada lagi beberapa santri MBI seperti Dani (25 th) yang saat ini sedang mempersiapkan diri untuk melakukan lobby dengan pemilik salah satu produsen kendaraan dan alat berat di Indonesia dan salah satu direktur eksekutif sebuah perusahaan provider layanan operator selluler di Indonesia. Selain itu juga ada Yedi (29 th) yang sedang giat melakukan lobby dengan para direktur eksekutif beberapa perusahaan energi dan mineral milik asing, disamping beberapa perusahaan trading dan supplier domestik.
Selamat berjuang para santri MBI... Suxess dan barokah selalu senantiasa tercurak kepada kita semua ... amiin..
Langganan:
Komentar (Atom)