Tahun 2007 adalah tahun ketiga kehidupan rumah tangga kami. Saat itu saya dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Pertama kehidupan bisnis saya sedang bangkrut abis dengan demikian saya bisa dikatakan 'no income', kedua saya sedang dililit utang yang menurut ukuran saya cukup banyak serta hidup dikejar-kejar tagihan dan kolektor, ketiga orang tua dan mertua saya sekeluarga relatif mengucilkan saya karena mereka kurang faham atas berbagai rencana finansial saya, dan yang keempat isteri saya yang seringkali kesulitan membaca alur pikiran saya. Pada tahun ini kami sekeluarga (saya, isteri, dan dua orang anak saya yang masih bayi), tinggal di tempat yang dulunya sebagai tempat kantor usaha saya yang setelah bangkrut keadaannya kosong. Dan pada awal tahun 2008 kami sekeluarga pindah ke rumah kontrakan yang kondisinya kumuh abis, alias tidak layak untuk kehidupan keluarga saya.
Saya membayar kontrakan tadi dengan sisa baju dagangan yang masih ada di saya. Hal yang cukup menarik adalah, orang yang punya rumah kontrakan tadi adalah seorang lelaki bujangan yang sedang mengalami gangguan kejiwaan. Dia tinggal di loteng rumah yang tidak ada akses untuk masuk ke tempat kami. Hampir tiap malam orang itu berteriak-teriak gak jelas yang kadang isteri dan anak saya heran dan ketakutan.
Hal ini tentu saja membuat keluarga saya dan isteri saya makin enggan 'bergaul' dengan kami, terutama saya. Akan tetapi saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan berbagai penilaian keluarga serta teman-teman saya.
Saya menulis ini bukan untuk bercerita sedih, akan tetapi hanya menyajikan sekelumit romantika saja. Karena saat ini kehidupan saya serta keluarga sudah jauh lebih baik.
Saya memilih pantang menyerah waktu itu, dan berkomitmen untuk terus melanjutkan berbagai rencana dan konsep finansial yang telah kami sepakati. Waktu itu saya kembali memulai usaha kembali dari nol. Akan tetapi tidak seperti sebelumnya, saya memulai usaha dengan benar-benar modal dengkul, karena dalam visi saya, terlihat sangat jelas bagaimana konsep bisnis saya tersebut beserta liku-likunya. Semuanya memang tidak mudah.
Sewaktu ramadhan tahun 2008 status saya adalah sebagai mustahik zakat. Hampir setiap hari saya dan isteri keliling masjid di seputar margahayu untuk cari makanan ta'jil. Hal ini ditambah isteri saya yang sedang hamil muda, mengandung anak ketiga kami. Saya lebih memilih sahur hanya dengan beberapa teguk air putih, dan menyisakan makanan buat isteri saya.
Akan tetapi sekali lagi, suasana kami sekeluarga cukup gembira, karena anak-anak kami yang ternyata memberikan suasanan yang sangat semarak di rumah kontrakan kami tadi.
Saya bisnis jualan yoghurt dan kacamata untuk dapur kami. Sedangkan di sisi lain saya mulai melakukan beberapa lobby dan pendekatan pasar waktu itu. Antara lain saya mulai melakukan penawaran barang-barang perangkat kerasn dan lunak produksi beberapa perusahaan rekanan saya. Alhamdulilllaah, waktu itu saya mulai dikenal sebagai pedagang alat-alat teknologi seperti alarm rumah, GPS tracking, serta marketing perangkat lunak tracking dan navigasi.
Saya banyak mempelajari seluk beluk bisnis alat-alat seperti itu. Mulai dari produksi, resiko, hingga persaingan pasar nya. Tahun 2009 kondisi finansial kami sudah relatif membaik, karena saya juga menerima orderan pekerjaan atau proyek survey yang sedikit banyak memberikan peluang agar ruang dapur rumah kami lebih padat isinya.. hehehe...
Akhir tahun 2009 kondisi finansial kami memungkinkan bisa membeli rumah sendiri, akan tetapi saya lebih memilih untuk membangun back office untuk lebih mengembangkan bisnis saya. Dan pada tahun 2010 ini kondisi bisnis saya sudah melibatkan investasi milyaran rupiah dan dengan peluang serta permintaan pasar mencapai puluhan milyar rupiah.
Saya menyajikan tulisan ini adalah untuk lebih menekankan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ataupun ditakuti ketika kita meilih suatu jalan dan laur kehidupan kita sendiri. Yang paling penting adalah kehidupan rumah tangga kita yang solid. Dukungan dan do'a dari anak-anak dan isteri kita lah yang sebenarnya fondasi yang akan menunjang kehidupan bisnis dan finansial kita.
Situasi sebaliknya akan kita alami jika kehidupan rumah tangga kita tidak kompak.
Jadi keluarga adalah fondasi kekuatan kehidupan finansial kita, keluarga juga sebagai fondasi kekuatan pendidikan kita beserta anak-anak kita. Selain itu motivasi dan semangat serta gairah hidup kita bermula dari kekuatan keluarga kita....!!!
Alllah SWT akan senantiasa menguji hamba-hambaNya dengan ketakutan, kekurangan, kelaparan, serta berbagai ujian lainnya....
Sabar adalah seni utama kehidupan kita dan syukur adalah motivator terbaik dalam kehidupan jiwa kita...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar